Perencanaan
Penerbitan Konvensional
Perencanaan
penting dilakukan agar kita bisa memiliki alternatif, tujuan, kebijakan,
prosedur dan program yang dapat dilaksanakan, realistis dan sejalan dengan
kemampuan organisasi.
Sukarna (1992: 10-12) menyebutkan 14 prinsip
perencanaan, yaitu :
11. Membantu
pencapaian tujuan
22. Efisiensi
perencanaan
33. Keutamaan
perencanaan
44. Pemerataan
perencanaan
55. Patokan
perencanaan
66. Kebijakan
kerangka kerja
77. Waktu
88. Komunikasi
perencanaan
99. Alternatif
110. Pembatasan
111. Keterikatan
112. Fleksibelitas
113. Perubahan
navigasional
114. Perencanaan
strategis
Dari 14 prinsip
tersebut, Sukarna (1992:13) menyimpulkan bahwa perencanaan adalah sebagai
berikut :
1. Fungsi
utama manager, karena pelaksanaan pekerjaan tergantung pada baik buruknya
perencanaan.
2. Diarahkan
pada tercapainya tujuan.
3. Didasarkan
pada fakta objektif dan rasional.
4. Mengandung
atau dapat memproyeksikan kejadian-kejadian pada masa mendatang
5. Memikirkan
dengan matang anggaran, program, kebijakan metode dan standar untuk mencapai
tujuan
A.
PERENCANAAN
PENERBITAN
Pembelajaran
tentang perencanaan penerbitan dengan memandang penerbitan sebagai salah satu
program yang akan dijalankan perpustakaan. Program penerbitan itu bisa terdiri
atas kegiatan penerbitan konvensional dan digital dalam bentuk penerbitan
berkala dan non berkala.
Dalam
menyusun perencanaan penerbitan, kita bisa menyusunnya dengan mengajukan tiga
pertanyaan sederhana yaitu, apa, bagaima dan mengapa. Pertanyaan ini akan
membantu kita dalam merumuskan tujuan penerbitan yang kita lakukan.
Misalnya,
untuk pertanyaan pertama, apa yang kita terbitkan dan untuk siapa terbitan itu
bisa kita jawab berdasarkan jenis-jenis penerbitan seperti buletin, kalawarta,
bibliografi atau buku panduan perpustakaan.
Agar
tujuan itu bisa lebih spesifik maka kita bisa menjawab pertanyaan dengan
mengapa. Mengapa kita perlu menerbitkan kalawarta tersebut misalnya karena
banyaknya informasi mutakhir yang hendak disampaikan perpustakaan sukar
disebarluaskan kepada anggotanya, padahal anggotanya memerlukan informasi itu.
Maka kita memiliki tujuan yang spesifik bahwa informasi yang disampaikan
perpustakaan adalah informasi yang mutakhir. Jadi kita bisa menuliskan tujuan
itu sebagai wadah pertukaran wadah informasi mutakhir.
Perencanaan
lembaga penerbitan merupakan perencanaan jangka panjang yang terdiri dari
sejumlah program, misalnya program penerbitan berkala dan penerbitan non
berkala. Lalu direncanakan pula pada masing-masing program kegiatan penerbitan.
Namun pembahasan ini terfokus pada program penerbitan yang tentu dilaksanakan
dengan tujuan tertentu.
Perencanaan
Sumber Daya Penerbitan
Dalam
perencanaan penerbitan, kita bisa memandang kegiatan penerbitan sebagai program
atau sebagai kegiatan/ proyek. Bila kita memandang penerbitan ini merupakan
program, tentu akan ada beberapa kegiatan/proyek yang artinya akan ada sejumlah
penerbitan baik berkala maupun nonberkala dalam jangka waktu tertentu. Misalnya,
dalam setahun anggaran digunakan untuk menerbitkan bibliografi, kalawarta.
Sedangkan
apabila memandang penerbitan itu sebagai proyek/ kegiatan maka kita akan
memfokuskan hanya pada satu bentuk penerbitan saja. Misalnya, kegiatan
penerbitan bibliografi dalam bidang tertentu.
Ada
perbedaan perencanaan antara penerbitan sebagai program dengan penerbitan
sebagai kegiatan. Pada perencanaan penerbitan sebagai program, kita akan
merumuskan perencanaan lebih secara konseptual. Sedangkan pada perencanaan
kegiatan penerbitan kita akan lebih banyak menyusun rencana teknis. Pada perencanaan
program kita akan menyusun rencana penerbitan apa, sumber daya manusia yang
seperti apa yang diperlukan. Sedangkan
pada perencanaan kegiatan kita akan lebih memfokuskan untuk perencanaan sumber
daya manusianya adalah siapa mengerjakan apa.
Dalam
perencanaan program penerbitan, rencana yang harus diperhatikan adalah apa yang terjadi dan akan terjadi pada
lingkungan eksternal dan internal perpustakaan. Pada lingkungan internal,
perpustakaan memiliki kekuatan kepakaran dan kemampuan mengelola informasi. Di
samping itu ada kelemahan dimana pustakawan yang belum memiliki kemampuan
memanfaatkan perkembangan TIK ini untuk meningkatkan kualitas pelayanan
perpustakaan sehingga memerlukan latihan.
Modifikasi
dari Terry (1986:169) menyebutkan bahwa penerbitan bertujuan untuk memberikan
pelayanan kepada pengguna perpustakaan sesuai dengan peran dan fungsi
perpustakaan. Pada modifikasi dari Terry tersebut, juga membahas tentang sumber
daya manusia dan membahas tentang pemasaran sebagai proses terakhir yang
dilalui terbitan.
Sumber
daya manusia merupakan bagian terpenting dari kegiatan organisasi, sehingga
sering dikemukakan SDM merupakan aset organisasi. Manusia tidak lagi dipandang
sebagai sarana produksi melainkan lebih merupakan sumber daya yang memungkinkan
organisasi bisa mencapai tujuannya dan memberikan sesuatu kepada publik yang
dilayani organisasi tersebut. Manusia yang memiliki kompetensi yang
memungkinkan organisasi menghasilkan sesuatu dalam mencapai tujuannya. Oleh
karena itu, dalam perencanaan SDM yang akan melaksanakan program tersebut akan
akan ditetapkan kompetensi yang diperlukan. Misalnya menulis, menyunting
mendesain.
Dalam
perencanaan SDM, ada beberapa nama-nama jabatan yang berkompetensi dibidangnya
yaitu : redaksi, editor, desainer, proofeader, dan setter. Bila perpustakaan
tidak memiliki tenaga dengan kompetensi seperti yang diperlukan, maka untuk
menyelesaikan masalah ini kita bisa mengambil tenaga dari luar (outsourcing)
yang dikontrak. Misalnya untuk tenaga editor, bisa meminta bantuan tenaga
penyunting seorang guru bahasa Indonesia atau editor profesional.
Tentu
dalam penerbitan kita membutuhkan sarana dan prasarana, baik berkala maupun
nonberkala. Kita akan membutuhkan ruang kerja dan perlengkapan seperti kursi
dan meja serta komputer. Kita bisa saja melakukan penerbitan tidak memerlukan
ruang khusus. Namun, tetap saja kita membutuhkan perlengkapan kerja seperti
komputer, printer, kertas atau alat tulis lain.
Metode
pelaksanaan pekerjaannnya sudah dikemukakan bergerak dari proses pracetak,
cetak dan diakhiri dengan pasca cetak. Dengan begitu, maka kegiatan dijalankan
sesuai dengan urutan prosesnya. Metode kerjanya pun melibatkan sejumlah
keterampilan yang satu sama lain saling berkaitan dan bergantung. Penyuntingan
akan terkait dengan tata letak isi buku. Begitu juga dengan tata muka buku
pembuatannya akan bergantung pada judul yang dibuat penulis yang kemudian bisa
saja judul itu diperbaiki dan disempurnakan oleh penyunting.
Sedangkan
materials atau bahan yang diperlukan untuk penerbitan yang terpenting adalah
naskah yang akan diterbitkan. Naskah bisa datang dari penulis luar institusi
perpustakaan, bisa juga datang dari penulis yang ada di perpustakaaan tersebut.
Bahan
lain yang diperlukan adalah kertas. Pada penerbitan konvensional, media yang
dipergunakan untuk menyimpan dan menyebarluaskan isi terbitan bersifat tunggal
yaitu kertas.
Dana
merupakan sumberdaya lain yang perlu diperhatikan dalam menyusun rencana
anggaran untuk program penerbitan. Anggaran untuk program tersebut sangat
bergantung dari sumberdaya lain. Misalnya, bila menggunakan SDM yang semuanya
merupakan staf perpustakaan yang diberi tugas tambahan mengelola penerbitan
maka honorarium untuk tambahan tugas itulah yang diperhitungkan. Namun, jika
mengontrak tenaga profesional untuk penyuntingan atau pembuatan desain terbitan
maka biaya yang dikeluarkan lebih besar lagi.
Dana
juga akan diperlukan untuk kegiatan pemasaran yakni mendistribusikan hasil
terbitan. Ada juga yang membutuhkan dana seperti untuk biaya kirim untuk
kegiatan pertukaran terbitan dengan perpustakaan lain atau dikirimkan pada
orang tertentu yang dianggap berkepentingan dengan terbitan yang dibuat.
B.
PERENCANAAN
PENGENDALIAN PENERBITAN
Pengendalian
merupakan fungsi penting manajemen apapun, termasuk manajemen penerbitan.
Pengendalian juga berkaitan dengan fungsi kepemimpinan atau kemampuan
manajerial seorang pemimpin/ manajer.
Sukarna
(1992:110) menyebutkan, pengendalian memiliki makna membimbing, menertibkan,
mengatur, dan menguji kebenaran. Oleh sebab itu, pengendalian memiliki peran
penting sekali dalam manajemen.
Pengendalian
penerbitan dilakukan dengan mengacu pada prinsip-prinsip pengendalian. Ada
beberapa prinsip pengendalian yang bisa kita pergunakan dalam kegiatan
penerbitan yaitu :
1. Tercapainya
tujuan
2. Efisiensi
pengawasan
3. Refleksi
perencanaan
4. Standar
5. Tindakan
Prinsip-prinsip
pengendalian yang diuraikan di atas merupakan yang saling menunjang satu sama
lain. oleh sebab itu, kita tidak bisa menggunakan satu atau dua prinsip saja
dalam melakukan pengendalian melainkan semua prinsip.
Ada
3 bentuk kegiatan yang berkaitan dengan pengendalian seperti yang dijelaskan
Husen (2009:4) yaitu sebagai berikut :
1. Supervisi,
yaitu melakukan serangkaian tindakan koordinasi pengawasan.
2. Inspeksi,
melakukan pemeriksaan terhadap hasil pekerjaan.
3. Tindakan
koreksi, melakukan perubahan dan perbaikan terhadap rencana yang telah
ditetapkan.
Pada
titik langkah perbaikan dan umpan balik bagi manajemen inilah peran
kepemimpinan menjadi penting.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar