Selasa, 06 September 2016

Modul 2

Perencanaan Penerbitan Digital
            Perbedaan antara penerbitan konvensional dan penerbitan digital lebih pada medium yang dipergunakan serta cara pendistribusiannya.  Penerbitan digital merupakan kegiatan yang padat teknologi, sehingga penting untuk  memperhatikan ketepatan pemilihan teknologi. Mulai dari yang sederhana yaitu memilih format apakah HTML atau pdf untuk terbitan yang akan dibuat.
            Berkaitan dengan cara pendistribusiannya, apakah akan di-upload tanpa publikasi sama sekalin ataukah akan di link dengan perpustakaan lain atau jaringan perpustakaan. Kita bisa mengambil contoh pelayanan digital yang diberikan Perpusnas RI. Visi pustaka adalah nama majalah yang disajikan secara online. Sehingga bukan hanya mereka yang tinggal di Jakarta saja yang bisa membaca majalah itu melainkan secara teknis bisa dibaca siapa pun di seeluruh dunia sejauh memiliki komputer yang terhubung ke internet.
            Dalam hal ini hal yang akan dibahas adalah perencanaan penerbitan digital, perencanaan sumber daya untuk penerbitan digital dan rencana penerbitan digital. Fokus pada penerbitan digital kita dalami mengingat perkembangan TIK yang mendorong perpustakaan melakukan publikasi melalui media baru. Media baru ini bukan hanya menyediakan  kemungkinan baru namun juga mengubah cara manusia mempublikasikan pikiran dan perasaannya. Selain itu juga dapat mengubah cara berbagai organisasi penerbitan melayani khalayaknya.
A.PERENCANAAN TERBITAN DIGITAL
            Perencanaan penerbitan konvensional dan perencanaan penerbitan digital diawali dengan penetapan tujuan penerbitan. Penerbitan konvensional dan digital mempunyai perbedaan yaitu pada jumlah eksemplarnya.  Perkembangan penerbitan digital selain didorong perkembangan teknologi juga didorong perkembangan yang terjadi di tengah masyarakat. Keluhan semakin mahalnya harga buku dipandang sebagai berkembangnya penerbitan digital. Perkembangan dan kecenderungan seperti ini tidak bisa diabaikan oleh dunia perpustakaan.  Apabila hendak menerbitkan suatu koleksi tidak harus berupa buku cetak, tetapi juga dapat menerbitkan berupa digital. Sebab pada zaman sekarang banyak orang yang memperoleh informasi melalui digital seperti membaca berita dari gadget mereka masing-masing.
            Tujuan penerbitan biasanya akan menggambarkan kelompok mana yang akan menjadi khalayak utama penerbitan. Di samping itu, dengan khalayak penerbitan yang terfokus itu pula kita bisa menjadin komunikasi dengan kelompok yang lain untuk menginformasikan terbitan perpustakaan masing-masing kelompok.
            Dalam tahap dan perencanaan digital sama halnya dengan perencaan konvensional. Seperti dimulai dengan mempelajari kondisi dan situasi lingkungan internal dan eksternal, kemudian perumusan tujuan dan langkah-langkah yang diperlukan untuk mewujudkan tujuan tersebut dengan menggunakan sumber daya yang dimiliki perpustakaan untuk menyelenggarakan penerbitan.
B.     PERENCANAAN SUMBER DAYA PENERBITAN DIGITAL
Pada kegiatan penerbitan konvensional dan kegiatan penerbitan digital memiliki perbedaan yaitu terletak pada proses cetak dan pasca cetak. Sedangkan untuk proses pracetak lebih banyak kesamaan dan perbedaannya.
            Sarana dan  prasarana untuk penerbitan digital melahirkan banyak cara untuk bisa mempublikasikan sesuatu. Kita bisa menerbitkan setiap jam sesuai dengan perkembangan peristiwa. Di era digital, kita tidak lagi dibatasi pada apa yang dicetak dengan tinta di atas kertas tetapi kita bisa menggantinya dengan buku elektronik. Akan tetapi buku elektronik hanya dapat dinikmati dengan sistem lisensi lewat internet.
            Format baru dari penerbitan elektronik memungkinkan kita membuatnya dalam bentuk multimedi. Artinya, bukan hanya teks dan virtual saja yang dimunculkan dalam terbitan melainkan juga diperkaya dengan animasi, musik, audio atau vidio. Kelebihan lain dari penerbitan digital adalah memungkinkan penerbitan bisa diakses di mana pun di seluruh penjuru dunia.
            Dalam melakukan proses penerbitan secara digital, dapat sepenuhnya memanfaatkan kemajuan teknologi komputer. Mulai dari pengolahan naskah hingga perancangan tata letak dan akhirnya di-upload. Cara pendistribusian terbitan digital berbeda dengan penerbitan konvensional yaitu bergantung pada sarana transportasi. Penerbitan digital dapat disajikan secara online dengan mudah, cepat dan murah.
            Dalam perencanaan penerbitan digital juga memiliki masalah yang tidak dapat diabaikan. Masalah tersebut adalah sebagai berikut :
1.      Kandungan Isi Buku
Jumlah buku untuk mahasiswa yang tersedia di pasar masih sangat kecil dan belum mewakili semua disiplin ilmu.pengembangan koleksi buku elektronik justru terhambat sikap penerbit buku konvensional yang konservatif.
2.      Protokol/Standar Perangkat Lunak Dan Keras
Dalam hal perangkat lunak buku elektronik hanya tersedia dalam satu format formal yang terbatas untuk sistem tertentu.
3.      Hak Cipta dan Pemakaian (Digital Rights Management)
Para produsen buku elektonik khawatir tentang kemungkinan para pengguna menyalin, menyetak, dan mengambil bagian dari buku.
4.      Akses
Jika buku elektronik disediakan di portal universias, para civitas akademika akan berharap dapat memakai buku tersebut secara bersama-sama.
5.      Penyimpanan atau Pengarsipan
Sebagian perpustakaan digital di kampus-kampus cenderung berlangganan akses ke buku elektronik, dan belum tentunya punya akses lagi setelah masa langganannya habis.
6.      Hak Pribadi
Ada penjaja buku elektronik yang menyimpan data para pembaca atau pengunjung situs meireka untuk mencatat secara rinci perilaku mereka dalam membaca.
7.      Fasilitas Tambahan
Ada banyak harapan tentang kelebihan yang ditawarkan buku elektronik dibanding buku kertas biasa. Misalnya buku elektronik mengandung pesan multimedia, fasilitas pencarian teks, pembuatan sitasi, pengaitan antarbuku dsb.
8.      Pasar dan Harga
Model bisnis penjaja buku elektronik pada umumnya ingin melibatkan perpustakaan sebagai macam perantara dengan pembaca namun kurang terlalu jelas apakah perpustakaan memang bagian dari bisinis tersebut.

Inti dari pembahasan pada subbagian ini adalah bagaimana perencanaan terbitan digital itu akan mencakup berbagai aspek. Aspek pertama yaitu teknologi yang dipergunakan dan yang kedua aspek format terbitan.
C.    RENCANA PENGENDALIAN PENERBITAN DIGITAL
Dalam menyusun rencana pengendalian, tentu kita akan kembali membahas soal supervisi, inspeksi dan tindakan koreksi. Hal yang membedakan hanyalah objek atau sasaran pengendaliannya.
            Dalam supervisi dilakukan daam rangka pelaksanaan fungsi pengendalian akan dilihat apakah tayangan di layar untuk promosi terbitan digital yang akan dilakukan sudah tepat atau belum.
Dalam kegiatan inspeksi yang populer dengan sebutan pemeriksaan. Dalam kegiatan ini menuntut kita untuk melihat kesesuaian terbitan digital dengan tujuan, misalnya apakah kita merasa perlu mengubah format, bukan sekedar mengalihkan analog ke digital atau dari cetak ke digital saja.
Dengan demikian, pengendalian yang kita lakukan itu bisa di tempatkan dalam konteks pengendalian mutu melalui pendekatan manajemen mutu terpadu. Oleh karena itu, kepuasan pengguna perpustakaan menjadi perhatian utama. Bukan hanya mempehatikan kepuasan pengguna yang kita lakukan melalui pelaksana fungsi pengendalian ini. Melainkan juga pencapaian tujuan program atau kegiatan penerbitan yang kita lakukan. Namun pada akhirnya akan tetap memprioritaskan kepuasan pengguna. Untuk mengukur kepuasan pengguna kita dapat mempersiapkan daftar sampai sejauh mana pelaksanaan pekerjaan yang diorientasikan untuk memuaskan kebutuhan pengguna. 

Modul 1

Perencanaan Penerbitan Konvensional
Perencanaan penting dilakukan agar kita bisa memiliki alternatif, tujuan, kebijakan, prosedur dan program yang dapat dilaksanakan, realistis dan sejalan dengan kemampuan organisasi.
Sukarna (1992: 10-12) menyebutkan 14 prinsip perencanaan, yaitu :
11.      Membantu pencapaian tujuan
22.      Efisiensi perencanaan
33.     Keutamaan perencanaan
44.    Pemerataan perencanaan
55.    Patokan perencanaan
66.   Kebijakan kerangka kerja
77.   Waktu
88.  Komunikasi perencanaan
99.  Alternatif
110.  Pembatasan
111.  Keterikatan
112.  Fleksibelitas
113. Perubahan navigasional
114.  Perencanaan strategis

Dari 14 prinsip tersebut, Sukarna (1992:13) menyimpulkan bahwa perencanaan adalah sebagai berikut :
1.      Fungsi utama manager, karena pelaksanaan pekerjaan tergantung pada baik buruknya perencanaan.
2.      Diarahkan pada tercapainya tujuan.
3.      Didasarkan pada fakta objektif dan rasional.
4.      Mengandung atau dapat memproyeksikan kejadian-kejadian pada masa mendatang
5.      Memikirkan dengan matang anggaran, program, kebijakan metode dan standar untuk mencapai tujuan

A.    PERENCANAAN PENERBITAN
Pembelajaran tentang perencanaan penerbitan dengan memandang penerbitan sebagai salah satu program yang akan dijalankan perpustakaan. Program penerbitan itu bisa terdiri atas kegiatan penerbitan konvensional dan digital dalam bentuk penerbitan berkala dan non berkala.
Dalam menyusun perencanaan penerbitan, kita bisa menyusunnya dengan mengajukan tiga pertanyaan sederhana yaitu, apa, bagaima dan mengapa. Pertanyaan ini akan membantu kita dalam merumuskan tujuan penerbitan yang kita lakukan.
Misalnya, untuk pertanyaan pertama, apa yang kita terbitkan dan untuk siapa terbitan itu bisa kita jawab berdasarkan jenis-jenis penerbitan seperti buletin, kalawarta, bibliografi atau buku panduan perpustakaan.
Agar tujuan itu bisa lebih spesifik maka kita bisa menjawab pertanyaan dengan mengapa. Mengapa kita perlu menerbitkan kalawarta tersebut misalnya karena banyaknya informasi mutakhir yang hendak disampaikan perpustakaan sukar disebarluaskan kepada anggotanya, padahal anggotanya memerlukan informasi itu. Maka kita memiliki tujuan yang spesifik bahwa informasi yang disampaikan perpustakaan adalah informasi yang mutakhir. Jadi kita bisa menuliskan tujuan itu sebagai wadah pertukaran wadah informasi mutakhir.
Perencanaan lembaga penerbitan merupakan perencanaan jangka panjang yang terdiri dari sejumlah program, misalnya program penerbitan berkala dan penerbitan non berkala. Lalu direncanakan pula pada masing-masing program kegiatan penerbitan. Namun pembahasan ini terfokus pada program penerbitan yang tentu dilaksanakan dengan tujuan tertentu.
Perencanaan Sumber Daya Penerbitan
Dalam perencanaan penerbitan, kita bisa memandang kegiatan penerbitan sebagai program atau sebagai kegiatan/ proyek. Bila kita memandang penerbitan ini merupakan program, tentu akan ada beberapa kegiatan/proyek yang artinya akan ada sejumlah penerbitan baik berkala maupun nonberkala dalam jangka waktu tertentu. Misalnya, dalam setahun anggaran digunakan untuk menerbitkan bibliografi, kalawarta.
Sedangkan apabila memandang penerbitan itu sebagai proyek/ kegiatan maka kita akan memfokuskan hanya pada satu bentuk penerbitan saja. Misalnya, kegiatan penerbitan bibliografi dalam bidang tertentu.
Ada perbedaan perencanaan antara penerbitan sebagai program dengan penerbitan sebagai kegiatan. Pada perencanaan penerbitan sebagai program, kita akan merumuskan perencanaan lebih secara konseptual. Sedangkan pada perencanaan kegiatan penerbitan kita akan lebih banyak menyusun rencana teknis. Pada perencanaan program kita akan menyusun rencana penerbitan apa, sumber daya manusia yang seperti apa yang diperlukan.  Sedangkan pada perencanaan kegiatan kita akan lebih memfokuskan untuk perencanaan sumber daya manusianya adalah siapa mengerjakan apa.
Dalam perencanaan program penerbitan, rencana yang harus diperhatikan  adalah apa yang terjadi dan akan terjadi pada lingkungan eksternal dan internal perpustakaan. Pada lingkungan internal, perpustakaan memiliki kekuatan kepakaran dan kemampuan mengelola informasi. Di samping itu ada kelemahan dimana pustakawan yang belum memiliki kemampuan memanfaatkan perkembangan TIK ini untuk meningkatkan kualitas pelayanan perpustakaan sehingga memerlukan latihan.
Modifikasi dari Terry (1986:169) menyebutkan bahwa penerbitan bertujuan untuk memberikan pelayanan kepada pengguna perpustakaan sesuai dengan peran dan fungsi perpustakaan. Pada modifikasi dari Terry tersebut, juga membahas tentang sumber daya manusia dan membahas tentang pemasaran sebagai proses terakhir yang dilalui terbitan.
Sumber daya manusia merupakan bagian terpenting dari kegiatan organisasi, sehingga sering dikemukakan SDM merupakan aset organisasi. Manusia tidak lagi dipandang sebagai sarana produksi melainkan lebih merupakan sumber daya yang memungkinkan organisasi bisa mencapai tujuannya dan memberikan sesuatu kepada publik yang dilayani organisasi tersebut. Manusia yang memiliki kompetensi yang memungkinkan organisasi menghasilkan sesuatu dalam mencapai tujuannya. Oleh karena itu, dalam perencanaan SDM yang akan melaksanakan program tersebut akan akan ditetapkan kompetensi yang diperlukan. Misalnya menulis, menyunting mendesain.
Dalam perencanaan SDM, ada beberapa nama-nama jabatan yang berkompetensi dibidangnya yaitu : redaksi, editor, desainer, proofeader, dan setter. Bila perpustakaan tidak memiliki tenaga dengan kompetensi seperti yang diperlukan, maka untuk menyelesaikan masalah ini kita bisa mengambil tenaga dari luar (outsourcing) yang dikontrak. Misalnya untuk tenaga editor, bisa meminta bantuan tenaga penyunting seorang guru bahasa Indonesia atau editor profesional.
Tentu dalam penerbitan kita membutuhkan sarana dan prasarana, baik berkala maupun nonberkala. Kita akan membutuhkan ruang kerja dan perlengkapan seperti kursi dan meja serta komputer. Kita bisa saja melakukan penerbitan tidak memerlukan ruang khusus. Namun, tetap saja kita membutuhkan perlengkapan kerja seperti komputer, printer, kertas atau alat tulis lain.
Metode pelaksanaan pekerjaannnya sudah dikemukakan bergerak dari proses pracetak, cetak dan diakhiri dengan pasca cetak. Dengan begitu, maka kegiatan dijalankan sesuai dengan urutan prosesnya. Metode kerjanya pun melibatkan sejumlah keterampilan yang satu sama lain saling berkaitan dan bergantung. Penyuntingan akan terkait dengan tata letak isi buku. Begitu juga dengan tata muka buku pembuatannya akan bergantung pada judul yang dibuat penulis yang kemudian bisa saja judul itu diperbaiki dan disempurnakan oleh penyunting.
Sedangkan materials atau bahan yang diperlukan untuk penerbitan yang terpenting adalah naskah yang akan diterbitkan. Naskah bisa datang dari penulis luar institusi perpustakaan, bisa juga datang dari penulis yang ada di perpustakaaan tersebut.
Bahan lain yang diperlukan adalah kertas. Pada penerbitan konvensional, media yang dipergunakan untuk menyimpan dan menyebarluaskan isi terbitan bersifat tunggal yaitu kertas.
Dana merupakan sumberdaya lain yang perlu diperhatikan dalam menyusun rencana anggaran untuk program penerbitan. Anggaran untuk program tersebut sangat bergantung dari sumberdaya lain. Misalnya, bila menggunakan SDM yang semuanya merupakan staf perpustakaan yang diberi tugas tambahan mengelola penerbitan maka honorarium untuk tambahan tugas itulah yang diperhitungkan. Namun, jika mengontrak tenaga profesional untuk penyuntingan atau pembuatan desain terbitan maka biaya yang dikeluarkan lebih besar lagi.
Dana juga akan diperlukan untuk kegiatan pemasaran yakni mendistribusikan hasil terbitan. Ada juga yang membutuhkan dana seperti untuk biaya kirim untuk kegiatan pertukaran terbitan dengan perpustakaan lain atau dikirimkan pada orang tertentu yang dianggap berkepentingan dengan terbitan yang dibuat.

B.     PERENCANAAN PENGENDALIAN PENERBITAN
Pengendalian merupakan fungsi penting manajemen apapun, termasuk manajemen penerbitan. Pengendalian juga berkaitan dengan fungsi kepemimpinan atau kemampuan manajerial seorang pemimpin/ manajer.
Sukarna (1992:110) menyebutkan, pengendalian memiliki makna membimbing, menertibkan, mengatur, dan menguji kebenaran. Oleh sebab itu, pengendalian memiliki peran penting sekali dalam manajemen.
Pengendalian penerbitan dilakukan dengan mengacu pada prinsip-prinsip pengendalian. Ada beberapa prinsip pengendalian yang bisa kita pergunakan dalam kegiatan penerbitan yaitu :
1.      Tercapainya tujuan
2.      Efisiensi pengawasan
3.      Refleksi perencanaan
4.      Standar
5.      Tindakan
Prinsip-prinsip pengendalian yang diuraikan di atas merupakan yang saling menunjang satu sama lain. oleh sebab itu, kita tidak bisa menggunakan satu atau dua prinsip saja dalam melakukan pengendalian melainkan semua prinsip.
Ada 3 bentuk kegiatan yang berkaitan dengan pengendalian seperti yang dijelaskan Husen (2009:4) yaitu sebagai berikut :
1.      Supervisi, yaitu melakukan serangkaian tindakan koordinasi pengawasan.
2.      Inspeksi, melakukan pemeriksaan terhadap hasil pekerjaan.
3.      Tindakan koreksi, melakukan perubahan dan perbaikan terhadap rencana yang telah ditetapkan.
Pada titik langkah perbaikan dan umpan balik bagi manajemen inilah peran kepemimpinan menjadi penting.



Who I am

Helloo, let me introduce myself. My name is Tahta Afwina. You can call me Tata. I was born on tulungagung, 8 December 1996. So, I already 19 years old. I lived on mastrip street no. 85 Tulungagung. My hobby are singing, kulinary, swimming, and travelling. My dreams are librarian and owner of english course.

I have a parents who love me so much. My father name is Samsul Hadi, he’s 53 years old. He’s a great father and great matematic teacher in Junior High School 1 Gondang. But, on May 3rd  2016 my father was pass away. Its make me so sad. But its okay, life must go on. Okay, let me introduce my mother. My mother name is Andri Dahriani. She is a religion teacher on Junior High School 1 Campurdarat. My mother is  a strong women, beautiful like angel. She is a good mother for us. I am so lucky to have her.. Btw, I have one brother and one sister. My sister is older, her name is Hilya. She is pretty as my mother. She is always angry with me if i have do a mistake. She is like a reminder me if i got a wrong way. Usually we always a fight. But, i love her so much. And the last i would introduce my brother. My brother name is alfian. His is grade 2 of Senior High school. He is handsome like my father i think hohooo. He’s joined scout and basketball. How lucky i am in the middle of both..